Sragen,-Efeknya, puluhan kontraktor lokal kini terancam gulung tikar dan menganggur masal. Ketegangan mencuat saat mereka membeberkan adanya keterlibatan oknum luar yang bertindak melampaui wewenang birokrasi.
Koordinator Forum Kajian APBD Sragen, Hery Kistoyo penuh semangat mengatakan sampai menggunakan analogi ekstrem untuk menggambarkan keliaran para makelar proyek ini.
“Bendera lelang ini yang mengibarkan oknum PUPR bukan PUPR. Kalau pejabat (korup) itu istilah kerennya tikus berdasi, ada ukurannya. Tapi kalau di sini, ini manusia berkepala tikus. Istilah kasarnya broker proyek. Mereka tidak punya kekuasaan atau wewenang, tapi luar biasa liar,” beber Hery saat menggeruduk kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen, (18/6/2026)
Hery menilai, keterlibatan “tikus-tikus” liar tersebut terendus dari draf pengumuman lelang pekan ini yang mendadak dipenuhi prasyarat rumit dan berbelit-belit.
Padahal, proyek yang dilelangkan hanyalah pembangunan jalan, yang kategori pekerjaan sederhana yang jamak dikerjakan.
”Ini jalan, sangat sederhana. Bahkan orang tidak sekolah pun bisa mengerjakan. Kenapa syaratnya harus dibuat luar biasa berbelit-belit? Jelas dukungannya dikunci semua. Kontraktor yang tidak berkomunikasi dengan mereka, dipastikan tidak bisa meminta dukungan material,” ketus Hery.
Dia menegaskan jika pemkab ingin lelang berjalan adil (fair), hapus aturan titipan tersebut
Menanggapi keluhan para kontraktor tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga DPU Sragen Aribowo Sulistyono langsung turun menemui perwakilan
Kendati belum bisa memberikan keputusan taktis terkait tuntutan pembatalan syarat lelang yang dinilai cacat tersebut, pihak PUPR berjanji akan segera membawa persoalan panas ini ke pimpinan.(As )





























