MERANGIN – Taman Kota Bangko yang dibangun di eks lahan kantin PKK Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi, dengan anggaran mencapai Rp3,095 miliar kini menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, taman yang belum lama selesai dibangun tersebut sudah menunjukkan berbagai kerusakan di sejumlah titik.
Pantauan dan informasi yang dihimpun, beberapa fasilitas taman tampak mulai mengalami kerusakan. Salah satunya pada ornamen bola-bola beton yang menjadi bagian dari desain taman tersebut. Bola-bola beton itu terlihat sudah lepas dari dudukannya bahkan ada yang terguling ke samping, sehingga menimbulkan pertanyaan publik terkait kualitas pekerjaan proyek tersebut.
Kondisi ini pun memicu beragam komentar dari masyarakat yang menilai pembangunan taman bernilai miliaran rupiah tersebut terkesan dikerjakan tanpa perencanaan dan pengawasan yang maksimal.
Salah seorang warga menilai kerusakan itu diduga karena konstruksi dudukan bola beton yang tidak kuat.
“Susah omong payah cakap. Bola-bolanya juga sepertinya tidak pakai tulang besi, jadi ya gampang rusaknya,” ujar seorang warga dengan nada menyindir.
Warga lainnya bahkan mengaku sejak awal sudah memprediksi bahwa taman tersebut berpotensi mengalami masalah dalam hal perawatan.
“Dari awal pembuatan taman saya sudah memprediksi maintenance-nya akan jauh lebih sulit daripada membangunnya. Ujung-ujungnya ya begini, terjadi pembiaran,” katanya.
Tidak hanya itu, masyarakat juga menyoroti lemahnya pengawasan saat proses pengerjaan proyek berlangsung. Mereka menduga kurangnya pengawasan dari pihak terkait menyebabkan mutu pekerjaan tidak maksimal.
“Kurang pengawasan dari pihak terkait saat pekerjaan berlangsung, sehingga hasilnya seperti ini. Dudukannya kurang kuat, akhirnya bolanya mudah lepas,” tambah warga lainnya.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada konsultan pengawas proyek yang dinilai harus bertanggung jawab terhadap kualitas pekerjaan yang dinilai jauh dari harapan.
“Kinerja konsultan pengawas wajib dipertanyakan. Masa proyek miliaran rupiah hasilnya seperti ini? Jangan sampai proyek hanya asal jadi tapi tetap lolos,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Tak hanya pihak pengawas, masyarakat juga menyindir peran DPRD Kabupaten Merangin yang dinilai seharusnya aktif melakukan fungsi pengawasan terhadap penggunaan anggaran daerah.
Menurut mereka, proyek dengan nilai fantastis tersebut semestinya menghasilkan fasilitas yang berkualitas dan tahan lama, bukan justru rusak ketika baru selesai dibangun.
“Taman tiga miliar, tapi hasilnya tidak memuaskan. Harusnya DPRD juga ikut mempertanyakan ini. Jangan sampai uang rakyat dipakai tapi hasilnya mengecewakan,” ujar warga lainnya.
Kini masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap proyek tersebut, termasuk meninjau kembali kualitas pekerjaan serta meminta pertanggungjawaban pihak pelaksana dan pengawas proyek.
Pasalnya, jika kerusakan sudah terjadi ketika taman baru saja selesai dibangun, publik khawatir kondisi tersebut akan semakin parah dalam waktu dekat apabila tidak segera diperbaiki. (Ady Lubis)





























