MERANGIN – Pekerjaan bahu jalan nasional di ruas Bangko–Sungai Manau tengah menjadi sorotan. Proyek yang berada di jalur strategis dengan lalu lintas kendaraan bertonase tinggi itu diduga belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi teknis yang semestinya.
Sebagai jalan nasional, ruas Bangko–Sungai Manau kerap dilalui kendaraan berat, termasuk angkutan alat berat menuju wilayah Kerinci maupun sebaliknya. Kondisi ini menuntut konstruksi bahu jalan yang kuat dan kokoh guna menopang badan jalan utama. Jika bahu jalan tidak memenuhi standar, kerusakan seperti retak hingga amblas pada tepi jalan berpotensi terjadi dan berdampak pada badan jalan utama.
Berdasarkan informasi di lapangan, proyek pembangunan bahu jalan ini tersebar di tiga titik, yakni sebelum Simpang Pulau Rengas, depan Puskesmas Bangko Barat, serta setelah gerbang selamat datang Desa Markeh.
Konsultan supervisi proyek, Rudi, menjelaskan bahwa volume pekerjaan di setiap titik berbeda.
“Sebelum Simpang Pulau Rengas volumenya masing-masing 400 meter kiri dan kanan, di depan Puskesmas Bangko Barat 200 meter kiri dan kanan, sedangkan di Desa Markeh mencapai 900 meter kiri dan kanan. Total keseluruhan sekitar 3.000 meter dengan lebar bervariasi, tergantung kondisi lapangan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, (20/04/2026).
Namun, pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah tahapan pekerjaan yang dipertanyakan. Galian tanah berkisar antara 25 hingga 30 cm, namun tidak terlihat adanya proses pemadatan tanah dasar maupun penghamparan agregat sebagai lapis pondasi.
Menanggapi hal tersebut, pihak konsultan menyebut kondisi tanah dasar dinilai sudah cukup keras sehingga tidak memerlukan pemadatan.
“Tanah dasarnya sudah cukup keras, jadi tidak perlu dipadatkan,” jelasnya.
Selain itu, dalam proses pengecoran juga tidak terlihat penggunaan alat vibrator yang berfungsi memadatkan beton dan menghilangkan rongga udara. Tanpa alat tersebut, kualitas beton dikhawatirkan menurun karena berpotensi menjadi berpori dan kurang kuat.
Di lapangan, pekerja terlihat hanya menggunakan alat manual seperti cangkul untuk meratakan coran, serta kayu gosok untuk menghaluskan permukaan beton.
Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah tidak ditemukannya papan informasi proyek di lokasi, meskipun pekerjaan telah berlangsung lebih dari dua bulan. Padahal, papan tersebut merupakan elemen penting yang memuat informasi terkait kegiatan proyek, seperti pelaksana, konsultan pengawas, sumber anggaran, nilai kontrak, serta waktu pelaksanaan.
Masyarakat berharap pihak terkait segera melengkapi informasi proyek serta memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai standar teknis, guna menjamin kualitas dan keamanan infrastruktur jalan nasional tersebut. (David)





























