Simeulue – Ketua DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Simeulue, Eko Susanto, yang akrab disapa Bintang Selatan, mengecam keras dugaan intimidasi dan ancaman yang dialami wartawan media kontrasaceh.net, Wahyudi Saputra, terkait pemberitaan seorang pejabat publik yang diduga berkaraoke di kawasan Pantai Sigulai, Simeulue.
Menurut Eko Susanto, tindakan ancaman terhadap insan pers merupakan bentuk nyata dari sikap anti-demokrasi dan pelecehan terhadap kebebasan pers yang telah dijamin undang-undang.
“Ini adalah contoh pejabat publik dan lingkarannya yang kolot, anti kritik, dan tidak siap hidup dalam sistem demokrasi. Negara ini bukan kerajaan, bukan pula wilayah barbar tempat seseorang bisa seenaknya mengancam wartawan hanya karena tidak suka diberitakan,” tegas Eko Susanto, Rabu (1/4/2026).
Ia menilai, jika seorang figur publik merasa terganggu hanya karena sorotan mengenai aktivitas karaoke, maka hal itu justru menunjukkan adanya kepanikan dan kesadaran bahwa perilaku tersebut memang dapat dinilai negatif oleh masyarakat.
“Kalau hanya soal karaoke saja reaksinya sampai seperti mau menelan orang, berarti ada kesadaran bahwa perilaku itu memang berpotensi merusak citra politiknya sendiri. Seharusnya santai saja, biarkan publik yang menilai. Tidak perlu banting meja, apalagi bermain ancam,” ujarnya.
Eko juga menegaskan bahwa siapa pun pejabat publik yang hidup dari uang negara wajib siap menerima sorotan, kritik, bahkan evaluasi dari masyarakat dan media.
“Siapa pun dia, selama hidupnya ditanggung negara, difasilitasi negara, dan digaji oleh uang rakyat, maka harus siap dikritik. Pejabat itu dibayar untuk melayani rakyat, bukan untuk dilayani seperti raja. Jangan merasa masyarakat harus sungkem di hadapannya,” katanya dengan nada tegas.
Lebih lanjut, Ketua DPD IWO Indonesia Simeulue itu menegaskan bahwa ancaman terhadap wartawan tidak boleh dianggap sepele dan harus menjadi perhatian aparat penegak hukum.
“Kalau ada yang merasa tidak siap dikritik, jangan jadi pejabat publik. Pergilah berkebun di puncak gunung. Demokrasi tidak boleh dibungkam dengan intimidasi, apalagi ancaman terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas profesinya,” tambahnya.
DPD IWO Indonesia Kabupaten Simeulue menyatakan solidaritas penuh terhadap wartawan yang mendapat tekanan, serta mendesak semua pihak untuk menghormati kebebasan pers sebagai pilar utama demokrasi. (*BS)





























