WAY KANAN, – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di aliran Sungai Way Umpu, Kabupaten Way Kanan, kembali memakan korban jiwa.
Seorang pencari emas tradisional bernama Tutur (Alm) meninggal dunia setelah tertimpa material tanah longsor saat melakukan aktivitas mencari emas dengan metode “ngejek” di pinggir Sungai Way Umpu, Kelurahan Blambangan Umpu, Minggu (5/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Korban yang sehari-hari dikenal warga sebagai tukang tambal ban yang ramah di kawasan Km 4 Blambangan Umpu ini, saat kejadian diketahui ditemani oleh istri pertamanya.
Informasi yang dihimpun, Tutur merupakan warga asli Kampung Gunung Sangkaran dan meninggalkan seorang istri serta lima orang anak.
Lurah Blambangan Umpu, Malik, membenarkan peristiwa tragis tersebut.
“Benar, kejadiannya sekitar pukul 14.00 WIB. Almarhum sedang mencari emas dengan metode ngejek bersama istrinya. Almarhum memang dikenal sebagai tukang tambal ban di Km 4, tapi aslinya warga Gunung Sangkaran,” ujar Malik saat dikonfirmasi.
Pihak kelurahan menyampaikan duka cita mendalam dan mengimbau warga agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di bantaran sungai.
“Kami turut berduka. Kami mengimbau warga yang mencari emas di sepanjang Way Umpu agar meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan,” pesannya.
Tragedi meninggalnya Tutur kembali membuka persoalan besar terkait maraknya aktivitas PETI di Way Kanan.
Selain penambang tradisional dengan mesin dongfeng, warga juga menyoroti adanya aktivitas penambangan yang diduga menggunakan alat berat excavator di beberapa titik sepanjang Way Umpu.
Aktivitas pengerukan dengan excavator tersebut dinilai sangat merusak lingkungan, merubah kontur sungai, dan berpotensi menyebabkan longsor serta kerusakan lahan perkebunan warga.
Masyarakat kini mempertanyakan keseriusan Aparat Penegak Hukum (APH) dan dinas terkait dalam menertibkan aktivitas PETI tersebut.
Jika berizin, masyarakat meminta transparansi terkait legalitas dan dokumen lingkungan. Namun jika terbukti PETI, warga mendesak agar segera ditertibkan sesuai hukum yang berlaku.
“Jangan sampai Tutur menjadi korban terakhir. Jangan pula tanah yang seharusnya bisa untuk berkebun berubah menjadi lubang-lubang galian yang menyisakan masalah untuk anak cucu kami,” keluh salah satu warga.
Masyarakat berharap ada tindakan nyata dari APH, bukan hanya sekadar imbauan.(Red)




























